Dell Technologies Memprediksi Cara Teknologi Mentransformasi Hidup Manusia

Dell Technologies (NYSE:DELL) merilis Future of Connected Living – sebuah riset yang membahas tentang bagaimana teknologi-teknologi baru akan mengubah cara hidup manusia menjelang tahun 2030. Riset ini, dilaksanakan bersama dengan Institute for the Future (IFTF) dan Vanson Bourne, mewawancarai 1.100 pemimpin bisnis di 10 negara Asia Pasifik & Jepang (APJ), termasuk Indonesia. Hasil riset ini memaparkan masa depan yang penuh dengan peluang karena kemajuan teknologi berpotensi untuk mengubah kehidupan manusia di seluruh dunia.

Teknologi mendorong perubahan besar

IFTF dan sebuah forum yang beranggotakan para ahli dari seluruh dunia memprediiksi bahwa teknologi-teknologi seperti edge computing, 5G, Kecerdasan Buatan (AI), Extended Reality (XR), dan IoT akan bersama-sama menciptakan lima “perubahan” besar dalam satu dekade ke depan. Perubahan-perubahan tersebut akan mengubah kehidupan manusia di seluruh dunia.

Amit Midha, President, Asia Pacific & Japan and Global Digital Cities, Dell Technologies, adalah salah satu pakar yang berpartisipasi aktif dalam riset ini, dan menurutnya, “Koneksi dan hubungan kita dengan teknologi akan sangat berbeda di tahun 2030 dan kami percaya bahwa keberhasilan hubungan antara manusia dan mesin adalah hubungan yang saling menguntungkan serta memanfaatkan keunggulan masing-masing untuk saling melengkapi.”

Lebih jauh ia menambahkan: “70% pemimpin bisnis di Asia Pasifik dan Jepang yang diwawancarai menyambut baik kemitraan manusia dengan mesin dan robot untuk membantu mengatasi keterbatasan manusia. Kita bisa memanfaatkan teknologi untuk menciptakan cara hidup yang baru, mengoptimalkan produktivitas, dan menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari secara lebih efektif, sekaligus membuat kota-kota kita menjadi lebih berkelanjutan (sustainable), efisien dan layak ditinggali.”

Sehubungan dengan semakin berkembangnya penggunaan teknologi baru di Indonesia, Richard Jeremiah, General Manager, Indonesia, Dell Technologies, mengatakan: “Teknologi-teknologi baru akan mengubah hidup kita dengan cara yang belum pernah kita alami sebelumnya. Seiring visi pemerintah Indonesia, yaitu Making Indonesia 4.0, dibutuhkan investasi signifikan untuk mengatasi berbagai isu-isu yang
muncul dan akan berdampak pada ekonomi digital, termasuk aturan tentang kecerdasan buatan, pembayaran mobile, dan membuat identitas digital. Kita harus terus berdiskusi dan mengeksplorasi cara merealisasikan masa depan tersebut dengan kemitraan yang imersif antara manusia dan mesin.”

Mengantisipasi Perubahan

Berbagai bisnis di APJ telah mempersiapkan diri menghadapi berbagai perubahan tersebut. Di bawah ini adalah pendapat dari pemimpin bisnis yang dirangkum dari hasil survei: • 80% (78% di Indonesia) berharap mereka akan merestrukturisasi cara mereka mengelola waktu dengan lebih banyak mengandalkan otomatisasi dalam melakukan pekerjaan • 49% pemimpin bisnis (50% di Indonesia) akan menyambut mesin-mesin yang dapat berfungsi secara mandiri • Lebih dari setengah bisnis-bisnis yang ada di APJ dan Indonesia yang disurvei mengindikasikan bahwa mereka mengantisipasi Networked Reality akan menjadi hal yang umum o 63% (69% di Indonesia) mengatakan mereka menyambut penggunaan VR dan AR dalam aktivitas sehari-hari o 62% (66% di Indonesia) menyatakan bahwa mereka bisa menerima teknologi ditanamkan ke tubuh manusia sehingga mereka bisa mengontrol komputer dengan pikiran mereka (brain computer interface)

Mengatasi Tantangan

Survei ini mendapati bahwa perubahan-perubahan besar berbasis teknologi ini mungkin akan menjadi tantangan bagi mereka ataupun organisasi yang masih berusaha untuk berubah. Organisasi-organisasi yang ingin memanfaatkan kemampuan dari teknologi-teknologi baru perlu mengambil langkah-langkah yang bisa mengumpulkan, memproses dan membagikan data secara efektif untuk bisa tetap mengikuti laju inovasi yang sangat cepat.

Selain itu, kekhawatiran terhadap ketepatan algoritma yang nantinya akan menjadi faktor penentu, mulai dari bagaimana cara perusahaan merekrut pegawai hingga siapa yang layak untuk menerima pinjaman, juga harus ditangani, serta kekhawatiran publik yang terus berkembang tentang privasi data. Pemerintah perlu belajar untuk bekerjasama dalam membagikan dan menerapkan data mereka jika ingin melihat perubahan kota-kota dari digital menjadi sentient.
Para pemimpin bisnis di APJ sudah mengantisipasi beberapa tantangan dan kekhawatiran tentang robot dengan kehidupan sosial: • 78% yang disurvei (86% di Indonesia) berharap di tahun 2030 mereka akan mempunyai kesadaran yang lebih baik tentang privasi mereka dibandingkan saat ini • 74% dari pemimpin bisnis yang disurvei (78% di Indonesia) mengatakan bahwa mereka melihat privasi data adalah tantangan skala sosial teratas yang harus diselesaikan

• 49% yang disurvei (50% di Indonesia) akan menyambut mesin yang bisa berfungsi secara mandiri
Berbagai kekhawatiran dan tantangan lainnya yang terangkum dalam survei ini meliputi penggunaan AI, dengan 49% (43% di Indonesia) menginginkan regulasi dan kejelasan tentang penggunaan AI, serta isu mengatasi dampak disrupsi digital, dengan 84% (84% di Indonesia) menyatakan bahwa transformasi digital di organisasi mereka seharusnya lebih merata.

Untuk melakukan riset ini, IFTF menggunakan studi yang telah mereka kembangkan selama puluhan tahun lamanya tentang masa depan pekerjaan dan teknologi, riset terbaru dari Dell Technologies, dan pendapat para pakar dari seluruh dunia. The Future of Connected Living adalah bagian ketiga dan terakhir dari seri tiga bagian penelitian yang termasuk The Future of the Economy dan The Future of Work, dimana kedua hasil studi tersebut telah dipublikasikan sebelumnya di tahun 2019.

Tentang riset ini

Dell Technologies bekerjasama dengan grup riset masa depan independen, Institute for the Future (IFTF), untuk meneliti bagaimana teknologi-teknologi baru akan mengubah hidup manusia dalam satu dekade ke depan. Riset ini dikembangkan dari hasil kolaborasi kedua organisasi ini di tahun 2017, ketika IFTF menyaring pendapat dari 20 pakar global dan memprediksi “era baru kemitraan manusia dan mesin”. Setahun kemudian, IFTF memprediksi bagaimana dinamika baru yang terjadi antara manusia dan mesin akan mengubah hidup manusia di tahun 2030.
Untuk studi ini, IFTF mengandalkan studi yang telah mereka kembangkan selama puluhan tahun tentang masa depan teknologi dan dampaknya terhadap kehidupan manusia, disertai wawancara mendalam dengan sejumlah pemangku kepentingan di seluruh dunia.

Tentang Institute for the Future

Institute for the Future (IFTF) adalah organisasi pemikiran masa depan terkemuka di dunia. Lebih dari 50 tahun, berbagai bisnis, pemerintah, dan organisasi dampak sosial mengandalkan prediksi global, penelitian yang dibuat sesuai permintaan, dan pelatihan tentang masa depan dari IFTF untuk memahami berbagai perubahan kompleks dan mengembangkan strategi-strategi yang siap diterapkan secara global. Berbagai metodologi dan perangkat yang digunakan IFTF menghasilkan masukan lengkap mengenai kemungkinan-kemungkinan transformatif di semua sektor, yang bersama-sama bisa mendukung masa depan yang berkelanjutan. Institute for the Future adalah organisasi non-profit yang terdaftar 501(c)(3) yang berlokasi di Palo Alto, California. Untuk informasi lebih lanjut, silakan mengunjungi www.iftf.org.

Tentang Vanson Bourne Vanson Bourne adalah spesialis riset pasar independen untuk sektor teknologi. Reputasi perusahaan dalam menghasilkan analisa berbasis riset berkualitas tinggi dan
terpercaya didasari oleh prinsip riset ketat dan kemampuan untuk mendapatkan masukan dari para pembuat keputusan senior dari berbagai fungsi teknis dan bisnis, di semua sektor usaha dan pasar-pasar penting.